SELAMAT DATANG DI BLOG KAMI............

.........SELAMAT DATANG DI BLOG KAMI............

Minggu, 09 September 2012

CARA PENGGUNAAN BWD



Bagan warna daun (BWD) pertama kali dikembangkan di Jepang, dan kemudian peneliti-peneliti dari Universitas Pertanian Zhejiang-Cina mengembangkan suatu BWD yang lebih baik dan mengkalibrasinya untuk padi indica, japonica dan hibrida. Alat ini kemudiannya menjadi model bagi BWD yang didistribusikan oleh Crop Resources and Management Network (CREMNET) - IRRI untuk tanaman padi; suatu alat yang sederhana, mudah digunakan, dan tidak mahal untuk menentukan waktu pemupukan N pada tanaman padi. BWD ini merupakan alat yang cocok untuk mengoptimalkan penggunaan N, dengan berbagai sumber pupuk N; pupuk-organik, pupuk-bio ataupun pupuk-kimia. BWD terdiri dari empat warna hijau, dari hijau kekuningan (No. 2 pada kartu) sampai hijau tua (No. 5 pada kartu). BWD tak dapat menunjukkan perbedaan warna hijau daun yang terlalu kecil sebagaimana pada khlorofil meter (SPAD). Namun BWD bisa dibandingkan dengan SPAD untuk menentukan ketepatan relatifnya dalam menentukan status N tanaman padi (Gani, 2010).
Dari beberapa penelitian yang dilakukan di Sukamandi, didapatkan korelasi dan regresi yang sangat nyata secara statistik antara nilai-nilai BWD dan SPAD, karena itu nilai BWD dapat digunakan untuk meregresikan nilai SPAD, pada berbagai musim, tipe tanah dan varietas padi. Nampak bahwa pembacaan BWD dapat digunakan dengan ketepatan dan validitas yang tinggi untuk mengukur warna daun.


Cara menggunakan BWD
Pilih daun termuda yang telah kembang sempurna dan sehat dari suatu tanaman untuk pengukuran warna daun. Warna daun ini sangat berhubungan dengan status N tanaman padi. Dari tiap lahan, pilih 10 daun dari 10 tanaman yang dipilih secara random (lebih banyak lebih baik) dan mewakili daerah penanaman. Pastikan memilih tanaman dalam suatu area dimana populasi tanaman seragam
Ukur warna dari tiap daun yang terpilih dengan memegang BWD dan menempatkan bagian tengah daun di atas standar warna untuk dibandingkan. Selama pengukuran, tutupi daun yang sedang diukur dengan badan karena pembacaan warna daun dipengaruhi oleh sudut matahari dan intensitas cahaya matahari. Jangan memotong ataupun merusak daun, dan bila mungkin sebaiknya pengukuran dilakukan oleh orang yang sama pada waktu yang sama di hari-hari pengamatan.
Bila warna daun nampaknya berada diantara dua standar warna, ambil rata-rata dari keduanya sebagai pembacaan warna daun. Contoh; bila warna suatu daun padi terletak antara No. 3 dan No. 4, maka bacaan warna daun adalah 3,5 (Gambar 1) .




Gambar 1. Bagan Warna Daun (BWD)

Penggunaan BWD sebagai Acuan Pemupukan
Lanjutkan pengambilan/pembacaanpada interval waktu 7-10 hari sampai 50 HST, atau sampai 10% pembungaan pada hibrida dan padi tipe baru (PTB) (Gani, 2010).
     Penggunaan BWD untuk menentukan waktu aplikasi pupuk N bisa dilakukan dengan 2 cara, yaitu waktu tetap (fixed time) dan waktu sebenarnya (real time).
1. Cara penggunaan BWD waktu tetap (fixed time)
Pembacaan BWD hanya dilakukan menjelang pemupukan kedua (tahap anakan aktif, 23 – 28 HST) dan pemupukan ketiga (tahap primordia, 38 – 42 HST), dengan tujuan untuk menghaluskan dosis pupuk yang ditetapkan. Jika nilai pembacaan BWD berada di bawah nilai kritis (<4 25="25" atas="atas" bwd="bwd" dari="dari" di="di" diberikan="diberikan" dinaikkan="dinaikkan" ditetapkan.="ditetapkan." dosis="dosis" hasil="hasil" jika="jika" jumlah="jumlah" kritis="kritis" maka="maka" n="n" nilai="nilai" pembacaan="pembacaan" pupuk="pupuk" sebaliknya="sebaliknya" sekitar="sekitar" sudah="sudah" yang="yang">4,0), maka dosis pupuk N yang diberikan dikurangi sekitar 25% dari jumlah yang sudah ditetapkan. Contoh waktu tetap :



2. Cara Penggunaan BWD waktu setempat (real time)
·         Pada saat pemupukan dasar (pupuk N) belum diperlukan pembacaan BWD. Pemupukan dasar biasanya dilakukan sebelum 14 HST dengan dosis 50 – 75 kg urea/ha. Pembacaan BWD mulai sekitar 25 HST untuk padi tanam pindah.
·         Pengukuran tingkat kehijauan daun padi dengan BWD dimulai pada saat tanaman berumur 25 – 28 HST. Pengukuran dilanjutkan setiap 7 – 10 hari sekali, sampai tanaman dalam kondisi bunting atau fase primordia. Cara ini berlaku bagi varietas unggul biasa. Khusus untuk padi hibrida dan Padi Tipe Baru (PTB), pengukuran tingkat kehijauan daun tanaman dilakukan sampai tanaman berbunga 10%.
·         Pilih secara acak 10 rumpun tanaman sehat pada hamparan yang seragam, lalu pilih daun teratas yang telah membuka penuh pada satu rumpun.
·         Letakkan bagian tengah daun di atas BWD, lalu bandingkan warna daun tersebut dengan skala warna pada BWD.
·         Pada saat mengukur daun tanaman dengan BWD, sebaiknya tidak menghadap sinar matahari, karena dapat mempengaruhi nilai pengukuran.
·         Bila memungkinkan setiap pengukuran dilakukan pada waktu dan oleh orang yang sama, untuk menghindari perbedaan pembacaan skala warna BWD.
·         Jika lebih dari 5 sampai 10 daun yang diamati warnannya dalam batas kritis atau dengan nilai rata-rata < 4,0 maka tanaman perlu segera dipupuk N dengan dosis sesuai rekomendasi pada daerah setempat.








Tidak ada komentar:

Poskan Komentar